Oleh: mahadayadiri | Oktober 28, 2008

REKONSILIASI HATI SAAT PILKADA USAI

Pernah dimuat oleh Pos Belitung edisi: Selasa, 15 Juli 2008 WIB

Penulis: Sri Saptono Basuki (Personal Konsultan & Trainer Maha Daya Diri)

PILKADA di berbagai daerah ada yang usai, ataupun baru akan mulai. Putra-putra bangsa mencoba menawarkan diri untuk menjadi pelaksana dan sekaligus pemimpin. Berbagai daya serta upaya telah dilaksanakan agar mendapat simpati dengan program dan segala bentuk daya pikat kepada seantero masyarakat. Rangkaian dari prosesi ini tentunya belum selesai.

Bila ini sebuah kompetisi maka akan ada yang kalah dan yang menang. Bila ini adalah awal suatu harapan bersama maka ayunan langkah akan masih terus dijalani. Bila ini adalah pesta cinta bersama maka biarkanlah bunga-bunga cinta ini menjadi bibit kemuliaan yang akan menumbuhkan pohon cinta nan penuh kebaikan.

Adalah kita yang telah melakukan prosesi ini dengan kearifan, yang akan melihat dan menentukan arah mana proses ini akan bergulir. Tidak menutup kenyataan bahwa begitu banyak hal yang telah dikeluarkan dalam menjalani prosesi pilkada. Mulai dari waktu, materi, konsepsi berfikir, perasaan, bahkan hal-hal kecil lainnya yang tidak terhitungkan, mungkin. Sejenak irama kehidupan memasuki beat yang didendangkan pada waktu itu. Baca Lanjutannya…

Oleh: mahadayadiri | November 13, 2008

KERAGUAN YANG MENGHANCURKAN

Di sela suatu perjalanan waktu aku menghela nafas panjang, ketika seorang sahabat berkunjung dan bercerita tentang gelombang-gelombang bahkan badai yang di hadapi dalam hidupnya. Sepertinya apa yang dia lakukan, membawa beban yang begitu beratnya dari waktu ke waktu.
Pertanyaan yang aku dapat dan dilontarkan kepadaku adalah, “Kenapa saya mesti membawa ini semua ? Benarkah saya tidak seberuntung mereka, gumamnya ?
Ketika aku tersenyum dengan semua brondongan pertanyaan itu, diapun ikut tersenyum.
Air putih yang aku hidangkan seperti memberikan dorongan kesegaran yang luar biasa. Bahkan sapaan yang begitu renyah saat dia membagi kata dengan anakku yang tiba-tiba ikut nimbrung kemudian berlalu sambil mempertanyakan keadaan anaknya yang kadang sering bermain dengannya.
Setelah sebegitu banyak hal dan keluh kesah keluar, sahabatku ini agak tenang, meski masih menerawang jauh. Sambil mengambil sebuah buku yang sengaja saya tulis untuk membantu saudara-saudaraku agar tidak merasa sendiri dan terbebani dalam memperjalankan kehidupannya.
” Aku mesti pulang, kasihan anak dan isteriku mungkin agak gelisah menunggu kepulanganku”, katanya. “Aku ingin mendengar suatu hal agar dapat semakin menyejukkan, selain ketertarikanku pada buku saku ini, bila kamu tidak berkeberatan sambungnya.

Sejenak aku merasa terbayang akan masa laluku yang mungkin nyaris sama atau bahkan lebih dalam dari sahabatku ini. Kegalauan yang nyaris tanpa batas dari waktu ke waktu harus aku hadapi. Kadang aku berlari tanpa arah hanya untuk menghindar dari tekanan yang begitu luar biasanya ini. Nada kecewa kadang terungkap karena merasa diri tidak bersalah, merasa orang paling sengsara, merasa paling benar, merasa tidak berdosa, merasa paling banyak berbuat baik, merasa sakit hati karena dikhianati, dan merasa-merasa segala kecamuk yang pada intinya tidak dapat menerima kenapa ini menimpa saya. Perang bathin ini harus aku alami dalam rentang waktu 24×365x4= …. jam ?!?!.
Begitu banyak yang harus aku selesaikan, sementara aku hanya meratapi nyaris tidak melakukan apa-apa… kalaupun melakukan hal, seperti memberi garam dalam lautan luas.
Banyak buku yang telah dibaca, banyak orang-orang telah didatangi. Tetapi kenapa belum juga selesai ? Terus berputar-putar pada level seperti itu. Mencari-cari, bermimpi, berkhayal. Ingin serba instant, berharap serta berandai-andai, seperti dongeng dengan keajaibannya. Hingga pada suatu titik yang akhirnya aku menemukannya.

Dan sekarang, inilah yang ingin aku bagi bersama dengan siapapun yang membutuhkannya.
Saya selalu menekankan pada para sahabat yang senantiasa berkomunikasi positip, dan juga untuk sejenak kontemplasi, serta berkeyakinan bahwa kita sedang dibawa ke suatu area dimana Allah menyentuhku (kita) di semua aspek hidup dan kehidupan kita. Allah berkomunikasi dengan bahasa yang penuh Kelembutan, Keperkasaan, Keanggunan, Kekuasaan, Keadilan, Kebijaksanaan, Kasih-sayang, Maha memberi, Maha Konsisten, Tepat waktu, dan Maha dibutuhkan, serta berbagai kebaikan yang tak terurai oleh kata-kata.
Pada area ini, atau titik kulminasi kita, maka kita akan melihat suatu hal diluar kemampuan kita yang merupakan pembenaran sekaligus penegasan bahwa Allah itu berbeda dengan mahluknya. Bahwa Maha kebenaran Allah adalah tidak terbantahkan serta terkatakan (nikmatnya jauh lebih banyak dari perbendaharaan kata-kata kita).

Jangan bangun keraguan !, keraguan akan menghancurkanmu. Baik itu hubunganmu dengan Allah SWT, rasa percaya dirimu, sahabatmu, hidupmu, ataupun semua aktifitasmu.
Hapus keraguan dengan sikap sabar, dan keyakinan didirimu. Tidak ada kata menyerah. Terima dengan lapang dada dan hadapi saja. Yakin 100% bulat utuh. Buku itu sebagai referensi penyejukmu, disamping doa serta spritualitasmu, dan hubunganmu dengan Allah yang terus engkau bangun.
Untuk merubah kehidupan harus ada kuncinya. Ilmu adalah kunci untuk membuka kebaikan kehidupan di dunia dan di akhirat.

Bila tidak ada lagi yang kita pertentangkan dalam pikiran, hati maka kenapa kita mesti bangun keraguan ? Kenapa mesti ada perilaku menyimpang ? Bisakah kita bangun komunikasi yang segaris antara pikiran, ucapan, hati, dan tindakannya ?
Kita tidak sedang bercerita tentang mengubah dunia, tetapi kita sedang membangun kekuatan diri. Membuat diri menjadi siap dengan segala fenomena yang kita hadapi dalam perjalanan waktu hidup.
Bila diri kita sudah mampu mengakumulasikan semua potensi dan kemahadayaan diri maka proses pembelajaran kehidupan akan semakin membuat kita semakin tersenyum, arif , dan ramah kepada hati, diri dan kehidupan kita. Dan insya allah sadar kemana kita akan berjalan.
( disadur dari buku ; MANUSIA TANPA IDENTITAS karya Sri Saptono Basuki)

Oleh: mahadayadiri | November 25, 2008

Salah Belok

SALAH BELOK adalah kelumprahan yang senantiasa kita harus hadapi. Banyak hal yang terjadi karena salah belok. Bagaimana kita melihat salah belok sebagai element pemuncul maha daya diri kita ? Simak selengkapnya. Baca Lanjutannya…

Oleh: mahadayadiri | November 25, 2008

Penagih Hutang

Kata ini memang menjadi hal yang menakutkan bila kita memang saat kita belum ada kecukupan untuk membayar hutang. Begitu banyak hal ini terjadi. Bila dihitung dalam 1 menit diseluruh dunia dapat kita imajinasikan berapa banyak orang yang mengalaminya. Bila hal ini menimbulkan kecemasan dan aura ketakutan, maka bayangkan di seluruh muka bumi ini betapa hawa kecemasan dan ketakutan yang menyelubungi bumi kita ?
Berapa banyak kehidupan yang mengalami distorsi. Berapa banyak kebahagiaan yang terampas ? Dan berapa banyak kehidupan miskin dan melaratnya jiwa terjadi karena hal ini, dan terciptanya kecemasan yang sengaja diciptakan meski tanpa sadar. Kita dimana ? Baca Lanjutannya…

Oleh: mahadayadiri | November 25, 2008

SEKAPUR SIRIH

MAHA DAYA DIRI adalah suatu upaya mensyukuri nikmat yang terstruktur  dan diimplemantasikan pada langkah-langkah kehidupan.
MAHA DAYA DIRI adalah suatu upaya untuk menyeimbangkan agar semua potensi yang telah ALLAH SWT limpahkan dapat termanfaatkan secara bijak, benar dan mampu membgi solusi untuk kemajuan diri atupun orang lain. 
MAHA DAYA DIRI adalah kekuatan serta sumber potensi di diri kita yang seringkali kita tidak yakin sehingga just gone with the wind, without nothing.
MAHA DAYA DIRI adalah gambar kesempurnaan ALLAH SWT, yang ditunjukkan agar memberikan kemuliaan, sebagai garis penegas bahwa kita ini benar-benar mahluk terpercaya yang membawa amanah sebagai pemulia kehidupan, serta sekaligus khalifah atas mahluk-Nya.

ANDA BERADA DIMANA ?

SUDAH SAATNYA KITA SEMUA MULAI PERCAYA AKAN KEMAMPUAN DIRI MENUJU MANUSIA YANG BERMARTABAT, BERDAYA DAN BERHASIL GUNA.

Mulailah kita membedakan mana pecundang dan mana pemenang.

Saya dan Anda telah memperjalankan begitu banyak waktu, kepedihan, perjuangan yang berbuah pengalaman, haruskah kita masih sibuk tidak karuan dalam merangkai “KEBAHAGIAAN” ?

Mari kita bangkit bersama, untuk menabur cinta serta kasih sayang dari RUMAH yang kita bangun untuk menunjukkan kebenaran kenapa KITA (saya dan anda) ADA.

Mari kita kenali Maha Daya Diri yang telah ada pada jiwa dan raga ini untuk menciptakan KEMULIAAN pada proses waktu perjalanan kehidupan kita.

 

Salam Kemuliaan,

Oleh: mahadayadiri | Oktober 24, 2009

detikcom : Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi

title : Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi
summary : Larangan menyanyi di kamar mandi rupanya tidak hanya terjadi di cerita fiksi karya Seno Gumira Ajidarma. Di Venezuela, Presiden Hugo Chavez mengimbau warganya untuk tidak menyanyi saat mandi. (read more)

title : Habibie: Jangan Pilih Menteri yang Banyak Omong dan Hindari SARA
summary : Mantan Presiden RI BJ Habibie mendatangi Kantor Departemen Pekerjaan Umum di Jl Pattimura, Jakarta Selatan mengisi seminar tentang tata kota. Mengenakan batik warna kuning cerah, dia tak meninggalkan gaya bicaranya yang khas, berapi-api, spontan dan humoris. (read more)

Oleh: mahadayadiri | Oktober 9, 2009

Sarasehan tanpa nama

            Sarasehan tanpa nama ini terjadi ketika seorang teman meminta dengan sangat melalui SMS yang sangat urgent, SOS.  Malam Jum’at menjadi pilihan waktu yang longgar untuk memenuhi panggilan tersebut.

            Sepertinya waktu menjadi sesuatu yangs memang tak sepenuhnya kita miliki, bahkan untuk menikmati buah masak yang natural kita mesti menunggunya, walau akhirnya budaya instant benar benar menditorsi. Karbit, dan karbitan menjadi pilihan untuk tidak perduli pada proses.

            Ada beberapa kawan yang hadir, topik mulai dari bencana alam di tanah Minang atau Sumatera Barat, sampai berkembang kemana-mana.  Ini lebih sebagai arena silaturahmi dan ngudarasa. Setelah saling bertukar cerita saya berinisiatif untuk mendrive pembicaraan. Bukan karena apa-apa, tetapi lebih ke arah efisiensi waktu. Karena ada date line yang harus saya tuntaskan untuk beberapa hari, dan malam ini saya harus  starting beberapa bagian sebelum, melengkapi schedulenya.

            Opini yang mengkaitkan apa yang terjadi antara waktu kejadian gempa dengan kesesuaian surat dan ayat di Al qur’an membuat saya mencoba untuk membuat garis penelaahan dalam membaca dengan hati dalam sarasehan tersebut. Melihat aktualitas dengan mata hati dan menyejukan penyampaian dengan lisan hati. Hati di buka lebar agar mampu mendengar dan memberi deskripsi pendengaran sedetail dan sejalan dengan kelurusan kebenaran.

            Kejadian tanggal 30 September diidentikan dengan surah Ar Ruum ayat 9 “ Dan apakah mereka tidak mengadakan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang sebelum mereka ? orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumu (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang  kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri sendiri”.

            Kemudian kejadiaan gempa jam 17.16 wib di padankan dengan apa yang ada dalam surah Al Israa ayat 16 (17;16).  “ Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya”.

            Kita semua sepakat bahwa kebenaran dan kesejatian hakiki semata-mata hanya milik Allah SWT. Disitulah semua simpul kebenaran dan kehakikian. Kejadian kemarin marilah kita mendeskripsikan secara lebih luas.

              Ketika perubahan harus dibangun sebagai kelanjutan dari evolusi yang terjadi. Allah semakin menjelaskan kepada kita. Makna dari perubahan. Kenapa harus berubah. Bagaiman kebaikan itu memberi positioning yang jelas bagi sinergi arah jalan semesta ini. Membangun harus tanpa menyakiti (jadi inget artikel saya ; Membangun tanpa menyakiti). Ini bukan pilihan ini adalah suatu keharusan dan suatu nilai kepantasan. Kita telah ditasbihkan sebagai mahluk yang mulia, maka perlu sekali adanya nilai-nilai kepantasan yang harus di penuhi untuk menjelaskan makna mulia itu.

               Dan sangat mungkin sekali adanya teguran, peringatan, himbauan, pengingat-ingat kepada kita semua bila kita melanggar, mengingkari, melecehkan, menistakan, masa bodoh dari nilai-nilai kemuliaan, nilai-nilai keharusan, dan nilai-nilai kepantasan.

               Bencana yang mestinya harus menjadi keprihatinan kita adalah bencana diri sendiri. Jagat raya ini termulai dari jagat di diri kita. Betapa bencana manusia yang terjadi setiap detik, lepas dari pantauan kita. Seperti symbol atau ungkapan idiom pemaknaan, kali ilang kedunge, pasar ilang kumandange bahkan mungkin manungsa (manusia) ilang kamanungsane.

Selalu ada harapan, dan asa . Jangan redupkan harapan ini, karena dari harapan  kita akan mampu untuk menghidupkan kembali semuanya. Meluruskan tatanan nilai dan memulai suatu evolusi yang sinergi dengan kehidupan ini sendiri. Dan kita membangun tanpa menyakiti.

Dan satu dari sekian asa-asa yang menguatkan kita adalah, asa pada  keyakinan dan keimanan bahwa sesungguhnya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-Nya.

“Janganlah pengabulan do’a yang tertunda, sementara kamu merasa telah bersungguh-sungguh dalam memohon kepada Allah Swt, memutuskan harapanmu. Karena Allah SWT menjamin akan mengabulkan do’amu dalam bentuk yang Dia kehendaki untukmu, bukan dalam bentuk yang kamu kehendaki. Do’amu itu akan dikabulkan pada waktu yang Dia tentukan, bukan pada waktu yang kamu tentukan.” (Al Hikam – Ibnu Atha’illah Asy Syakandari) .

            Apalagi yang harus kita gelisahkan bukankah selalu ada nilai/rapot untuk menunjukan nilai kepatutan bila kita naik kelas/level. Merah atau biru, baik atau buruk Allah selalu menjaga hal itu bagi kita. Dan kita selalu minta hadiah dulu, sementara kita masa bodoh, tutup mata, atau mungkin telah gagal atas ujian-ujian kita.

            Sarasehan tanpa nama menjadi hening, seiiring larutnya malam akan menjemput 2/3nya. Mari kita lanjutkan kehidupan ini dengan syukur, kita berdoa dengan kesadaran hati, ketulusan hati dan sangkaan yang terbaik. Ucapan yang terucap dalam memecah keheningan sekaligus pamit dari sarasehan tanpa nama tersebut menyegerakan semua untuk bangun dari jeda sepersekian waktu.

            Bila kita telah usai dari suatu urusan/perkara dan telah  memberikan totalitas yang terbaik maka segera kita bergegas untuk menyiapkan diri akan urusan lainnya dengan totalitas yang terbaik pula. Untuk alasan itu saya dan anda memberi warna bagi kehidupan kita.

Oleh: mahadayadiri | Oktober 3, 2009

Membangun Empati

Tanggal 30 September senantiasa dimaknai sebagai hari yang kelabu bagi kita semua, seiring dengan tragedi lubang buaya akibat gerakan PKI pada waktu dulu. Saat ini pada tanggal yang sama kita juga merasakan kelabu akibat bencana gempa yang menguncang saudara-saudara kita di Sumatera Barat.

Kepiluan akibat bencana tersebut masih ditambah dengan sebagian besar stasiun TV yang terus menerus merelease berita-berita tersebut. Empati pun terbangun jutaan bantuan dari anak negri maupun negara-negara sahabat terus berdatangan. Relawan pun sigap tanpa pamrih, sekali lagi empati pun terbangun.

Ada kepedihan yang terasa setiap saya melihat tayangan TV. Kepedihan ini semakin menjadi saat reporter TV yang kurang bijak dalam memilih kata pengantar berita untuk disampaikan kepada mereka yang menonton tayangan tersebut.

Ini bukan show ataupun reality show.

Kalimat yang mempropagandakan yang ingin membombastis kejadian acapkali keluar begitu saja. Dan cenderung menjadikan ini tidak lagi news yang memberitakan, tetapi news yang mengeksploitasi dan cenderung menjual kepedihan.

Saya cenderung tidak sanggup hati untuk terus terdiam. Dan saya memilih untuk memindah channel agar empati ini tidak lenyap terkikis.

Ada pertanyaan yang muncul dari anak saya ketika melihat tayangan tersebut. Kenapa Tuhan memilih mereka ? anak-anak yang terjebak saat mereka sedang berjuang menuntut ilmu demi meningkatkan derajat pengetahuan mereka. Berarti mereka juga mati sahid ya, Pa ?

Saya tak tahu harus memulai dengan kata yang bagaimana untuk melanjutkan menjadi suatu kalimat yang membangun pengertian sekaligus menguatkan empati yang telah terbangun dari gempa di Padang dan Sumatera Barat. Mungkin Tuhan tersenyum dan telah menyampaikan jawaban langsung kepada anak saya. Karena dia sambil tersenyum melanjutkan kalimatnya, Tuhan memang Maha Kuasa, Pengasih dan Penyayang ya, Pa ini semua kan cobaan agar menjadi bukti bahwa kita semua masih sayang dan cinta kepada Tuhan.

Air mata ini pun terasa Nano Nano, begitu cepat Tuhan membelajarkan. Dari membangun empati sampai ikhlas menerima cobaan sebagai bentuk kecintaan, syukur dan taat.

Bangsa ini memang sedang dipeluk oleh Tuhan sebagai bentuk untuk saling empati satu sama lain. Begitu banyak perilaku kehidupan yang telah dijalankan oleh pengelola negara ini menimbulkan perih, sakit, dan kekecewaan yang berkepanjangan. Sehingga percaya menjadi barang yang amat langka dan mahal. Bila ini terus terjadi, maka bangsa ini akan hancur. Empatilah yang harus dibangun untuk menyelamatkan kehidupan berbangsa dan bernegara. Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh.

Tuhan begitu menyayangi dan mengasihi bangsa ini. Maafkan kami yang harus tergerak sadar melalui cobaan seperti ini. Semoga kita semua memaknai cobaan ini sebagai titik balik untuk membangun empati, kepedulian, sehati, senasib sehingga bangsa ini tetap jaya, kokoh dan bermartabat. Semoga.

Oleh: mahadayadiri | Agustus 23, 2009

Malaysia yang mengusik

Ungkapan maling sia beberapa waktu lalu seiring beberapa kasus dan klaim budaya oleh Malaysia tidaklah berlebihan. Malaysia memang sangat culas demikian teman saya sering mennyebutnya. 

Kita memang terlalu kaya sehingga kekayaan kita dicuri pun tidak sadar. Beberapa teman di Kalimantan Tengah juga menyebut tentang perilaku beberapa pengusaha Malaysia yang mengelola kelapa sawit kadang melakukan perambahan hutan. Ilegal logging.

Patutkah kita berdiam saja. Atau memang sudah tidak bernyali. Konsepsi neoliberalisma telah memudarkan paham nasionalisme.

 Pemerintah dan kedutaan besar kita di Malaysia semestinya lebih berani untuk berbicara tentang kepatutan dan etika.  Ketidaktegasan inilah yang diartikan lemah. Mudah diatur.

 Korupsi memang sudah semakin memuakkan di negeri kita. Tetapi apakah harga diri bangsa ini semurah itu.

 Bila beberapa bulan lalu Malaysia apakah kau kumaafkan telah saya tulis. Sekarangpun saya lebih mempertegas lagi. 

Bila keris juga engkau klaim sebagai budaya original Malaysia semestinya mereka juga bisa melihat sumpah amukti palapanya Gajah Mada. Atau legenda dengan keris pusaka Kyai Supa dengan sengkelatnya. Atau Ken arok dan Mpu Gandring.

Malaysia sepertikah itu budayamu dalam bertetangga dan berkerabat. Janganlah usik kami, engkau tahu ini bulan Ramadhan, bulan suci dimana kami laku untuk dapat menahan diri melalui hakikat ibadah puasa.

Jangan kau getarkan keris yang sudah terhunus ini.

Oleh: mahadayadiri | Agustus 21, 2009

Ramadhan, pengukuhan untuk kemulian

Pada suatu shalat subuh, selesai memberi salam langsung Sayidina Ali menadahkan tangan dan berkata :

“Telah ku lihat para sahabat Nabi SAW, tetapi sekarag tidak ada lagi yang menyerupai mereka itu. Mereka (para sahabat) biasanya keluar pagi – pagi berambut kusut, wajah menguning berdebu dan mata mereka membesar sebesar lutut kambing karena semalaman suntuk bersujud dan berdiri shalat malam seraya membaca kitab Allah dan menggilirkan antara tapak dan kening ke tanah. Bila hari telah pagi mereka pun menginggat Allah hingga bergoyang badannya bagaikan pohon ditiup angin badai dengan air mata bercucuran membasahi kain. Wallahi, sekarang kulihat masyarakat lalai sepanjang malam.”

Kemudian Sayidina Ali pun bangkit. Dan sejak subuh itu beliau tidak pernah lagi kelihatan ketawa hingga beliau wafat oleh pukulan pedang Ibnu Muljam.

Jaman sekarang sangat relevan dengan apa yang menjadi kedukaan dari Sayidina Ali. Dan sangat mungkin saya pun ada di dalamnya.

Jaman sekarang sebagai jaman yang maju jaman megatrend, jaman millennium, setan sebenarnya telah pensiun muda. Investasi yang ditanamnya sudah sangat lama BEP, bahkan bunganya sudah lama berbunga.

Pada akhirnya sekarang setan tidak lagi menggoda manusia. Dan yang terjadi adalah manusia sedang sedemikian rupa menggoda setan untuk menerima proposal penistaan diri mereka. Triliunan bahkan mungkin lebih, proposal tersebut  ada setiap harinya.

Ramadhan, marhaban … . ya ramadhan. Semoga menjadi turning point untuk berwisata hati mencari padhang bulannya hati untuk menemukan jalan terang pulang.

Selamat menunaikan ibadah puasa, mohon maaf lahir bathin dan tempaan ini semakin memperjelas identitas hati kita. Dan ramadhan pengukuhan untuk kemuliaan kita bersama. Amin.

Oleh: mahadayadiri | Agustus 9, 2009

Membangun ruang publik

Bila ruang publik bukan hanya sebuah ruang/tempat untuk bisa menghirup udara segar, refresh, atau hal lain umum yang diminati semacam kegembiraan. Maka akan kita bangun yang bagaimana dengan ruang publik itu.

ruang publik
ruang publik

Bila ruang publik adalah MiRa alias milik ramai-ramai. Mungkinkah diri kita dapat sebagai ruang publik untuk orang lain ?

 Menerima orang lain seluas-luasnya di ruang hati.

Menghargai kesepakatan tanpa menyalahgunakan. Menghargai orang lain tanpa kehilangan arti diri. Terbuka tanpa merasa telanjang.

Melayani keberagaman dengan kelembutan, keramahan, kesejukan, dan cinta yang akan merindangkan.

 Menyadari bahwa diri ini hanya pinjaman, meski sering berkecamuk protes tanpa henti, bagai bratayudha diri yang tiada akhir.

Kesadaran diri merupakan proses perjalanan yang akan mengembang maupun menyusut.

Kompleksitas yang ada dalam diri setiap insan semestinya tidak lantas menjadi beban berat untuk melangkah.

 Proses yang berjalan tentunya akan membangun kesadaran bahwa kita ada dalam ruang publik yang menunjukkan kebesaran dan kemulian sang Kuasa Allah SWT.

Langkah kecil yang kita putuskan tentunya akan turut membangun langkah besar yang mewarnai kehidupan. Dan bila kehidupan adalah ruang publik, tentunya ada pengukuhan bahwa memang benar di sebagian kita ada hak orang lain.

Mulai langkah kecil. Matikan telepon saat rapat. Berbagi perhatian dan empati. Membentangkan senyum ramah di keseharian. Memeluk anak dengan hati, bukan memanjakan dengan belenggu materi yang berdampak kegersangan serta egositas diri. Anda sudah membangun suatu ruang publik. Semoga.

 

Oleh: mahadayadiri | Agustus 9, 2009

Berat sama di pikul, ringan sama di jinjing

Kehidupan ini memang tidak sesederhana dan juga tidak serumit yang disangkakan oleh sebagian umum kita. Bahkan harimau atau burung yang terkurung pun masih dapat hidup dan makan meski tentunya kehilangan kebebasannya. Bila seperti itu mungkin ini pula banyak orang yang mengatakan bahwa hidup itu never flat benar adanya.

Banyak pilihan yang harus kita tentukan seiring dengan jaman yang telah membangun eranya sendiri. Kebebasan yang menglobal ini telah menunjukkan kompetisi yang sangat keras. Kondisi inilah yang mengakibatkan orang menjadi acuh. Lu lu gue gue. Egositas diri mulai bermunculan Orang berjuang untuk survival dengan kepentingannya masing-masing. Inilah masyarakat yang katanya modern, cair dengan perubahan. Pranata pranata kehidupan yang sangat banyak hanya sekedar rangka tanpa jiwa, atau raga tanpa ruh.

Bila seperti ini mungkin realitas yang ada di kehidupan sosial dengan segala fenomena kasusnya tak akan pernah terbantahkan. Orang begitu mudah frustasi, gelap mata, vandalis. Pertolongan yang ada adalah bila mereka harus bermateri. Uang menjadi dewa bagi gaya kehidupan mereka meski katanya mereka berketuhanan.

Siapakah yang peduli, meski senyatanya jiwa dan kultur kebersamaan kita juga tidak pernah mati atau lenyap. Dan pembelajaran kehidupan senatiasa terus berjalan serta diajarkan. Alam pun senantiasa terus menjadi sahabat, teman, dan guru yang baik untuk menyadarkan. Seperti burung gagak yang mengajarkan bagaimana seremonial penguburan itu berlaku.

Lalu apa pilihan kita ? Selamatkan diri dan tujuh turunan keluarga kita ? meski itu harus memakan bangkai saudara sendiri ? Korupsi, baik secara halus atau kasar.

Berat sama di pikul ringan sama di jinjing. Mbah Surip dan Mas Willy telah menunjukkan dan mempertegas arti sebuah kebenaran hati. Keyakinan. Seperti yang disampaikan mas Willy “ Apakah artinya berfikir/bila terpisah dari masalah kehidupan..”

Terima kasih dan selamat menuju ke keabadian yang hakiki, mbah Surip dan mas Willy (WS Rendra).

Oleh: mahadayadiri | Juli 21, 2009

Hari Anak Dan Cerita Kelabu

Menyambut hari anak, kita dihadapkan pada realitas kehidupan yang kelabu. Tragedi pengeboman Mega Kuningan menjadikan kita harus semakin arif dalam menjelaskan kepada anak kita. Menjaga mereka dan memperjalankan mereka dalam pertumbuhan waktu kedewasaan sebagaimana mereka adanya.

Anak seperti kertas yang putih polos, mereka akan mungkin berubah seiring dominasi apa yang mereka dapatkan. Seperti halnya air yang kita sering mengidiomkan dengan kehidupan. Air sebagaimana tutur Masaru Emoto dalam the true power of water, akan memberikan warna dan karakter kekhasan bila ia di beri perlakuan tertentu.

Air dengan dasar label (perlakuan) Cinta dan Terima Kasih memberikan bentuk kristal air yang begitu indah dan mempesona, dibandingkan dengan yang tidak. Bila air dengan perlakuan kebaikan, kemuliaan, dan ajakan positip mampu memberikan respon yang luar biasa indahnya, bagaimana dengan kita dan anak anak kita ?.

Tubuh kita dan anak kita yang sebagian besar terkompenen dengan air bukan hal yang mustahil menjadi indah dan semakin indah bila kita dasari dengan kemuliaan, kebaikan, keutamaan, nilai-nilai positip, keramahan serta kesantunan.

Kita akan semakin mengenal betapa maha daya diri itu sangat mungkin dimunculkan dan dipersiapakan untuk menjadi kuat serta ada. Betapa keberhasilan, harapan dan kesuksesan masa depan dapat kita wujudkan serta persiapkan sejak dini.

Begitu banyak cerita kelabu, perilaku negative, contoh figure yang tidak patut ditauladani, informasi yang menyesatkan ada di sekeliling kita. Kita harus lebih bijaksana dalam menentukan parameter filter bagi kedewasaan dan kemajuan anak-anak kita. Era global ini jelas menambah ekstra perhatian bagi kita semua dalam membangunkan kultur. Kultur di mana mereka anak-anak kita dapat tumbuh beradab, berkeyakinan, mulia serta bermartabat.

Hari anak akan semakin membuat kita semakin sadar bahwa kita harus berbagi tanggung jawab dengan anak kita. Kita telah mengalami masa kanak-kanak dengan waktu dan jaman yang berbeda, serta saat ini kita membantu agar anak kita mampu membangun dunianya untuk masa depannya. Bahwa materi dan uang bukan satu-satunya alat yang membahagiakan mereka. Kita sering mengkambinghitamkan bahwa kita bekerja keras demi anak, padahal ini hanyalah masalah perhatian. Anak ingin juga mendapat porsi waktu yang layak sebagai salah satu dari sekian prioritas di rentang waktu kehidupan. Kita tetap orang tua mereka, kita tidak dapat menyerahkan kedudukan dan fungsi orang tua pada lingkungan, pendidikan di sekolah, atau pranata social lainnya.

Kehidupan terus mengalami evolusi, anak-anakpun harus di dukung untuk siap menjalani, menghadapi, dan memuliakan perubahan itu. Mereka tetaplah anak-anak. Penyambung kehidupan dan pewarna keragaman bangsa ini kelak.

Hari anak sebagai pengingat akan tugas mulia lainnya dari 366 hari waktu yang kita perjalankan, dan semoga tidak ada lagi cerita kepiluan serta cerita kelabu bagi kehidupan anak-anak. Dan seyogyanya amanat UU betul-betul dilaksanakan bahwa anak-anak memang harus di beri ruang serta perlindungan bagi kemudahan menjalani kehidupan kedepannya. Semoga apa yang terjadi dengan kisah-kisah itu tidak pernah ada lagi, seperti halnya apa yang terjadi di Tangerang, Jawa Timur, atau bagian pelosok dari negeri ini. Semoga.

Oleh: mahadayadiri | Juli 19, 2009

Luka Yang Terluka

17 Juli 2009 memang memberi luka yang kesekian kali. Dengan kegamangan atas belum mampunya memahami rasionalitas dan kepicikan atas kenapa mereka begitu ?  Apakah ini tanda  bahwa hal yang paling aman adalah bersama sang pemberi rasa aman. Rasa luka sudah terlanjur ada lagi. Bukan untuk di lawan atau dipertentangkan tetapi untuk disikapi dengan melihat ke dalam mulat saliro. Ada elemen yang putus nyambung putus nyambung dengan jalinan sambungan yang beda. Kita berbeda, tetapi selayaknya itu justru memperteguh bahwa kita memang harus bersinergi dan menjadi bagian suatu kebersamaan Bhinneka Tunggal Ika.

Luka yang terluka. Memang kita dapati saat ini. Pemimpin yang semestinya bisa menjadi arranger bagi kebersamaan telah mengalami kuldesak. Tak semestinya menyampaikan hal yang mengakibatkan kegalauan public. Semestinya pemimpin negeri mampu merangkum dan menyadari posisi dirinya. Bahwa ada yang suka dan banyak juga yang tidak suka. Banyak yang menyanjung tetapi banyak juga yang menghujat.

Kualitas pemimpin memang beragam. Tegar, teguh, kukuh, jujur, amanah, tidak bersifat reaktif yang berlebihan, sejuk, teduh, tegas dengan tutur, sikap dan tindakan adalah elemen dasar untuk melayani 250 juta bangsa besar seperti Indonesia Raya ini.

Laut memang berbeda dengan danau ataupun sungai. Laut memberikan ciri khasnya sendiri, meski dia tanpa lelah menampung sekaligus menjadi muara semua aliran sungai itu mengalir pada akhirnya. Lautpun berbagi dengan langit untuk menebarkan kesempatan dan harapan bagi mahluk lainnya.

Hal ini menginggatkan pada perjalanan Arya Bima/Werkudoro saat mencari air suci. Dan saat menemukan kesejatian kehidupan yang secara umum banyak disimbolkan dengan air, melalui proses panjang dan masuk ke tubuh Dewa Ruci.

Kita memang harus terus membangun kemahadayadirian kita agar semakin siap saat langit memanggil untuk menjalankan amanah kehidupan. Kita tidak semestinya merekayasa langit agar seolah-olah kita memang yang terpilih dengan mencampuradukan langit dan bumi. Kita memang sedang menjemput jalan menuju kemuliaan dan kebaikan. Bukan untuk siapa-siapa tapi untuk kualitas kita sendiri dalam memberi variant positip bagi pertanggungjawaban kehidupan.

Luka yang terluka sudah terlanjur ada. Mungkin saja ada bagian lain dari bangsa ini yang lebih luka dari luka ini dan kita lalai dalam menanganinya. Mungkin ini memang harga yang harus dibayar untuk mengkukuhkan kita sebagai bangsa besar, mulia dan bermartabat. 

 Perjalanan masih panjang, dan kita sama-sama menyadarinya. Apa guna keluh kesah kalau ini akan mengeruhkan perjalanan kita.  Indonesia akan mampu melewati ini semua. Seperti manakala Nusantara diperjalankan dan dimuliakan dengan kemerdekan pada tanggal 17 Agustus 1945. Semua punya nilai di rentang waktunya. Saya dan anda adalah Indonesiana yang mampu mewujudkan itu. Semoga.

Tulisan Sebelumnya »

Kategori