Kamis malam jum’at adalah waktu luang dimana banyak sahabat yang datang membangun silaturahmi. Waktu itu kebetulan lebih longgar, seorang sahabat datang awal dan bercerita tentang bisnisnya dengan keyakinan barunya bagaimana memandang suatu bisnis yang akan dia kerjakan. “Mas kita harus optimis, meski harus dengan duit orang lain. Nah, saya sekarang tidak hanya optimis itu saja, tetapi optimis juga dengan bagaimana menggunakan tenaga orang lain. Ini akan saya jadikan konsepsi landasan berbisnis saya yang baru mas. Mumpung ada kesempatan saya sikat saja mas. Saat ini ada beberapa orang yang bekerja dengan saya. Dan beberapa perusahaan financial yang menyetujui ekspansi saya mas. “ O.. ya, tapi hati-hati lho njenangan jangan kemronggo”. Saya agak tidak berkenan dengan optimis njenengan yang sedemikan menggebu, dan kaburnya niat yang selama ini kita pahami dalam menjalankan usaha. Apalagi ajian mumpungnya itu lho. Sahabat saya itu tertawa, “ tenang aja”. “ Perbankan aja sudah memberikan pinjamannya lho mas “. “Saya tidak terlalu sepakat, janganlah sampean membuat fatamorgana keyakinan, dan membangun estimasi tanpa dasar, resiko sungguh jauh lebih besar, saya berusaha untuk terus menginggatkannya.
Peristiwa itu adalah satu tahun yang lalu, dan posisi sekarang dia sedang pada proses mengembalikan kondisi seperti di awal-awalnya dulu. Karena niatan bisnisnya dibangun dalam fatamorgana keyakinan, bukan keyakinan utuh, maka tidak ada kekuatan yang kokoh sebagai fondasi dalam memperjalankan usaha bisnisnya. Dan paradigma bisnis yang tidak berfondasi tidak menunjukkan karakter, berakibat rentan terhadap terpaan tantangan dan tekanan bisnis. Apa yang dapat kita ambil hikmah dari tutur kehidupan ini.
Fatamorgana keyakinan
Ketika membangun keyakinan atas suatu usaha ataupun cita-cita, kita seringkali gamang ditengah perjalanan. Begitu mudahnya kita berpaling atas suatu niat awal atau keyakinan yang tengah kita cipta. Konsistensi perjuangan melemah, gampang sekali terprovokasi. Akibatnya kehilangan fokus tujuan, dan cenderung tidak istiqomah. Yang terberat adalah kita seperti kehilangan keyakinan. Begitu keyakinan kita hilang atau melemah maka rute masa depan kita pun menjadi engga karuan mutar-muter seperti obat nyamuk. Disinilah kita sudah terjebak dalam fatamorgana keyakinan atau keyakinan semu.
Setiap hari kita berdoa agar mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Namun terkadang belumlah kebahagaian yang kita dapatkan malah terkadang ujian yang mendatangkan kesengsaraan. Biasanya keluhan terhadap masalah terjadi karena kita terlalu mengkhawatirkan masa depan nantinya. Kita khawatir jika masalah ini memberikan dampak negative dalam kehidupan kita . Kekhawatiran berupa kekurangan materi, harta, kekurangan makanan, kehilangan pekerjaan, tidak bisa makan, atau kekhawatiran lainnya yang membuat tidak nyaman. Padahal 80% yang kita khawatirkan tidak pernah terjadi. Padahal banyak kekhawatiran yang ternyata justru membuat kita terperangkap dan mengkungkung kreatifitas kita dalam bekerja. Ketika masalah hadir, stress atau ketegangan mutlak terjadi. Namun kita bisa memanage dengan baik stress itu agar stress yang terjadi bukan membuat khawatir justru membuat kita lebih kreatif. Untuk itu keyakinan harus utuh, bulat dan jangan memfatamorganakan keyakinan atau berjalan dalam keyakinan semu.
Ada beberapa hal yang harus dibangun dan dikuatkan dalam memperteguh keyakinan. Sabar adalah kunci kesuksesan seorang hamba, sebagaimana dijelaskan Allah dalam firman-Nya (yang artinya): “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung”. (Qs. Al Imran: 200).
Meyakini akan besarnya balasan dan pahala atas kesabaran tersebut. Diantaranya:
a. Mendapatkan pertolongan Allah, sebagaimana firman-Nya (yang artinya): “Dan Allah beserta orang-orang yang sabar”. (Qs. Al Baqarah: 249).
b. Mendapatkan shalawat, rahmat dan petunjuk Allah, sebagaimana firman-Nya (yang artinya): “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan:” Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk” (Qs. Al Baqarah: 155-157).
Yakin dan percaya akan mendapatkan pemecahan dan kemudahan, sebab Allah telah menjadikan dua kemudahan dalam satu kesulitan sebagai rahmat dari-Nya. Inilah yang difirmankan Allah (yang artinya): “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. (Qs. Al Insyirah: 5-6).
Sabar yang seutuhnya adalah elemen dasar kita menuju konsistensi terhadap tujuan, dan istiqomah terhadap pencapaian. Dengan sabar maka kita akan membalikan keyakinan yang semu dan rapuh menjadi keyakinan yang utuh dan senyatanya.
Estimasi tanpa dasar
Teori-teori dalam manajemen sudah begitu banyak terungkapkan dan dikembangkan. Bahwa perencanaan adalah hal yang perlu diperhatikan saat kita mau memulai membangun kesuksesan. Seringkali orang memang tidak membuat perencanaan untuk keberhasilannya. Mereka hanya mencoba dan mencoba, meski pada saat itu dilakukan, mereka harus jatuh bangun, perih, dan pedih.
Kegagalan memang tidak pernah dipersiapkan. Tetapi membangun anti kegagalan adalah upaya kita untuk tetap bertahan dalam merealisasikan kesuksesan. Bisnis adalah organisasi yang sangat dinamis. Perubahan yang terjadi di dalamnya begitu cepat, baik karena percepatan waktu, jaman, maupun tingginya ekspetasi akan terpenuhinya sebuah keinginan.
Bila ekspetasi tanpa didasari pada estimasi yang realistis, maka kita harus siap menerima kondisi melesetnya harapan. Ngawur, asal, ceroboh, grusa-grusuh, hantam kromo adalah tindakan tanpa estimasi dasar. Akibatnya adalah musibah dan depresi yang akan menghantui kita. Jika anda mengalami musibah yang menyebabkan depresi, ada cara yang disebut dengan Reframming, yang semoga dapat menjadi cara mudah untuk melepaskan depresi tersebut.
1. Catatlah 3 Hal yang telah hilang dari diri anda
2. Catatlah 1 Hal yang paling anda khawatirkan terjadi dengan keadaan ini
3. Catatlah 3 Hal yang tidak akan terjadi dengan keadaan ini
4. Catatlah 5 Sumber daya yang masih anda miliki
5. Catatlah 5 Hikmah dari kejadian yang anda alami
Buatlah catatan itu dalam sebuah kertas besar yang menyadarkan anda bahwa masih banyak hikmah dari kejadian yang ada dapatkan. Anda boleh saja bersedih menerima musibah yang anda hadapi namun ketahulilah masih banyak pula yang masih bisa anda kerjakan. Hidup anda tidak boleh berakhir karena kejadian ini karena perjalanan masihlah sangat panjang dan perjuangan hidup yang sesungguhnya barulah anda mulai. Yakinilah diri anda bahwa semua pasti akan berlalu. “Syukuri apa yang ada hidup adalah anugerah,” demikian lantunan lagu yang mengingatkan kita untuk “Jangan Menyerah” dalam menapaki kehidupan.
Kegagalan dalam bisnis adalah dimulai dari persiapan yang minim. Bukan hanya kaitan dengan modal financial yang selalu menjadi alasan utama, tetapi mentalitas, kompetensi, skill seyogyanya juga dipersiapkan. Banyak pula yang jatuh hanya karena minimnya kemampuan dalam manajemen diri dan mentalitas. Konsepsi memberi akan mendapat lebih, perlu menjadi dasar awalan langkah. Bila kita ingin membangun bisnis maka kita harus memberi lebih banyak kepada bisnis tersebut agar mampu berkembang dan hidup. Bukan malah sebaliknya. Disinilah juga perlunya pemahaman tentang pendidikan financial. Apa itu bertindak dengan dasar investasi, bisnis, liabilitas, cash flow, fix cost, dll.
Untuk itulah jika kita ingin melakukan hal yang besar, maka kita juga harus berfikir, bertindak, bersikap, dengan pola – pola yang lebih besar, lebih luas, terukur, serta sistematis tanpa harus merasa tersekat atau terbatasi. Bila dalam hidup ini berlaku hukum kekekalan energi. Maka energi yang kita berikan kepada dunia tak akan pernah musnah. Energi itu akan kembali kepada kita dalam bentuk yang lain. Kebaikan yang kita lakukan pasti akan kembali kepada kita dalam bentuk persahabatan, cinta kasih, makna hidup, maupun kepuasan batin yang mendalam. Dan bila bisnis kita lakukan dengan jalan tersebut, maka apa yang akan dapat kita tuai ? ……
Jadi, setiap berbuat baik kepada pihak lain, kita sebenarnya sedang berbuat baik kepada diri kita sendiri. Semoga.