Sarasehan tanpa nama ini terjadi ketika seorang teman meminta dengan sangat melalui SMS yang sangat urgent, SOS. Malam Jum’at menjadi pilihan waktu yang longgar untuk memenuhi panggilan tersebut.
Sepertinya waktu menjadi sesuatu yangs memang tak sepenuhnya kita miliki, bahkan untuk menikmati buah masak yang natural kita mesti menunggunya, walau akhirnya budaya instant benar benar menditorsi. Karbit, dan karbitan menjadi pilihan untuk tidak perduli pada proses.
Ada beberapa kawan yang hadir, topik mulai dari bencana alam di tanah Minang atau Sumatera Barat, sampai berkembang kemana-mana. Ini lebih sebagai arena silaturahmi dan ngudarasa. Setelah saling bertukar cerita saya berinisiatif untuk mendrive pembicaraan. Bukan karena apa-apa, tetapi lebih ke arah efisiensi waktu. Karena ada date line yang harus saya tuntaskan untuk beberapa hari, dan malam ini saya harus starting beberapa bagian sebelum, melengkapi schedulenya.
Opini yang mengkaitkan apa yang terjadi antara waktu kejadian gempa dengan kesesuaian surat dan ayat di Al qur’an membuat saya mencoba untuk membuat garis penelaahan dalam membaca dengan hati dalam sarasehan tersebut. Melihat aktualitas dengan mata hati dan menyejukan penyampaian dengan lisan hati. Hati di buka lebar agar mampu mendengar dan memberi deskripsi pendengaran sedetail dan sejalan dengan kelurusan kebenaran.
Kejadian tanggal 30 September diidentikan dengan surah Ar Ruum ayat 9 “ Dan apakah mereka tidak mengadakan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang sebelum mereka ? orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumu (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri sendiri”.
Kemudian kejadiaan gempa jam 17.16 wib di padankan dengan apa yang ada dalam surah Al Israa ayat 16 (17;16). “ Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya”.
Kita semua sepakat bahwa kebenaran dan kesejatian hakiki semata-mata hanya milik Allah SWT. Disitulah semua simpul kebenaran dan kehakikian. Kejadian kemarin marilah kita mendeskripsikan secara lebih luas.
Ketika perubahan harus dibangun sebagai kelanjutan dari evolusi yang terjadi. Allah semakin menjelaskan kepada kita. Makna dari perubahan. Kenapa harus berubah. Bagaiman kebaikan itu memberi positioning yang jelas bagi sinergi arah jalan semesta ini. Membangun harus tanpa menyakiti (jadi inget artikel saya ; Membangun tanpa menyakiti). Ini bukan pilihan ini adalah suatu keharusan dan suatu nilai kepantasan. Kita telah ditasbihkan sebagai mahluk yang mulia, maka perlu sekali adanya nilai-nilai kepantasan yang harus di penuhi untuk menjelaskan makna mulia itu.
Dan sangat mungkin sekali adanya teguran, peringatan, himbauan, pengingat-ingat kepada kita semua bila kita melanggar, mengingkari, melecehkan, menistakan, masa bodoh dari nilai-nilai kemuliaan, nilai-nilai keharusan, dan nilai-nilai kepantasan.
Bencana yang mestinya harus menjadi keprihatinan kita adalah bencana diri sendiri. Jagat raya ini termulai dari jagat di diri kita. Betapa bencana manusia yang terjadi setiap detik, lepas dari pantauan kita. Seperti symbol atau ungkapan idiom pemaknaan, kali ilang kedunge, pasar ilang kumandange bahkan mungkin manungsa (manusia) ilang kamanungsane.
Selalu ada harapan, dan asa . Jangan redupkan harapan ini, karena dari harapan kita akan mampu untuk menghidupkan kembali semuanya. Meluruskan tatanan nilai dan memulai suatu evolusi yang sinergi dengan kehidupan ini sendiri. Dan kita membangun tanpa menyakiti.
Dan satu dari sekian asa-asa yang menguatkan kita adalah, asa pada keyakinan dan keimanan bahwa sesungguhnya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-Nya.
“Janganlah pengabulan do’a yang tertunda, sementara kamu merasa telah bersungguh-sungguh dalam memohon kepada Allah Swt, memutuskan harapanmu. Karena Allah SWT menjamin akan mengabulkan do’amu dalam bentuk yang Dia kehendaki untukmu, bukan dalam bentuk yang kamu kehendaki. Do’amu itu akan dikabulkan pada waktu yang Dia tentukan, bukan pada waktu yang kamu tentukan.” (Al Hikam – Ibnu Atha’illah Asy Syakandari) .
Apalagi yang harus kita gelisahkan bukankah selalu ada nilai/rapot untuk menunjukan nilai kepatutan bila kita naik kelas/level. Merah atau biru, baik atau buruk Allah selalu menjaga hal itu bagi kita. Dan kita selalu minta hadiah dulu, sementara kita masa bodoh, tutup mata, atau mungkin telah gagal atas ujian-ujian kita.
Sarasehan tanpa nama menjadi hening, seiiring larutnya malam akan menjemput 2/3nya. Mari kita lanjutkan kehidupan ini dengan syukur, kita berdoa dengan kesadaran hati, ketulusan hati dan sangkaan yang terbaik. Ucapan yang terucap dalam memecah keheningan sekaligus pamit dari sarasehan tanpa nama tersebut menyegerakan semua untuk bangun dari jeda sepersekian waktu.
Bila kita telah usai dari suatu urusan/perkara dan telah memberikan totalitas yang terbaik maka segera kita bergegas untuk menyiapkan diri akan urusan lainnya dengan totalitas yang terbaik pula. Untuk alasan itu saya dan anda memberi warna bagi kehidupan kita.